@=================================[Alfadii]=================================@
.

Rabu, 18 Mei 2011

Bumi Panrita Lopi : Sebuah Catatan Sederhana

Berawal dari pementasan I La Galigo, di Fort Rotterdam beberapa waktu yang lalu, menginspirasi jalan-jalan mendadak kali ini. Dalam satu bagian cerita epik ini, kapal Sawerigading sang tokoh utama karam oleh badai, pecahannya kemudian terserak di sekitar perairan Bulukumba, badan perahunya terdampar di pelabuhan ara, lunas terdampar di lemo-lemo dan kemudinya terdampar di Bira. Sehingga konon ceritanya, dari sinilah awal mula terbentuknya masyarakat bahari Bulukumba yang terdiri atas para pembuat perahu phinisi dari masyarakat ara dan lemo-lemo serta para pelaut ulungnya yang berasal dari masyarakat Bira

Bumi Panrita Lopi (bumi para pembuat perahu) merupakan nama lain dari Kabupaten Bulukumba yang terletak di sebelah selatan Provinsi Sulawesi Selatan, berjarak 150 km atau sekitar 3 jam dari Kota Makassar. Bulukumba merupakan daerah yang begitu berwarna, sangat kaya untuk dieksplorasi, mulai dari alam, potensi agro, masyarakat dan ... jangan sampai terlewat untuk mendokumentasikan bentuk tradisi turun-temurun yang terkenal hingga ke seberang benua, ya... tradisi pembuatan perahu phinisi. Bukan apa-apa sih, jika anda berdiri di sebelah "bayi-bayi" phinisi yang baru dipoles, berbincang langsung dengan para pembuatnya, niscaya anda akan merasakan sensasi  (baca: merinding) mendengar cerita ketangguhan jenis perahu legendaris ini. Di zaman modern saja, sederet nama perahu kebanggaan Bangsa Indonesia ini mampu melanglang buana menembus badai dan menjelajah samudera luas, antara lain seperti, perahu phinisi Nusantara yang mampu mengarungi samudera pasifik sampai Vancauver, Phinisi Hati Marege mampu menembus lautan bebas di selatan Timor Timur sampai ke Darwin Australia, Phinisi Amannagappa berlayar hingga ke Madagaskar serta Damar Sagara melayari rute, Bulukumba - Makassar - Samarinda - Filipina - Jepang -Amerika. Dan semuanya dibuat di sini, tepatnya di Tanah Beru.

Pantai Bira
Letaknya sekitar 42 km dari kota Bulukumba, panoramanya keren, pantai pasir putih disaput air laut yang jernih, pada bulan-bulan tertentu jika beruntung kita dapat melihat lumba-lumba yang melompat di atas permukaan air laut yang jernih.

Tanah Beru
Letaknya sekitar 24 km dari kota Bulukumba, di sinilah tempat pembuatan perahu phinisi. Sepanjang garis pantai kita akan menyaksikan berderet ragam jenis perahu phinisi sedang dikerjakan. Jika beruntung kita mungkin akan menyaksikan upacara pelepasan perahu phinisi yang telah jadi untuk dilepas ke samudera. Sayangnya, ketika kami berkunjung, peristiwa itu terlewat sekitar seminggu sebelum kami tiba, sebuah perahu phinisi ukuran besar yang merupakan pesanan dari salah seorang warga negara Prancis yang dikerjakan oleh unit usaha pembuatan perahu yang dipimpin oleh Haji Abdullah, telah dilepas ke samudera luas.

Pantai Lemo-Lemo
Letaknya sekitar 7 km dari Tanah beru, eksotisme yang ditawarkan luar biasa. Bahkan kami secara subyektif menganggap bahwa lemo-lemo merupakan pantai landai dengan pasir putih halus terbaik di Bulukumba. Eksotis karena daerah ini belum tergarap secara maksimal, namun inilah kelebihan yang ditawarkan pantai ini, sangat alami dan suasananya tenang dan asri karena berlatar belakang hijaunya hutan dengan beragam suara fauna yang khas.
 

Perkebunan Karet
Letaknya sekitar 3 km dari kota Bulukumba, berdiri sejak tahun 1918 oleh pemerintah Hindia Belanda. Kini, kawasan agro ini terbagi atas dua bagian yakni Pallangisang Estate dan Ballombissie Estate, yang dikelola oleh PT. Lonsum.

Kawasan Adat Amma Toa Kajang
Letaknya sekitar 7 km dari Perkebunan Karet PT. Lonsum, daerah ini merupakan desa adat yang kental dengan nilai-nilai kearifan lokal. Pola kehidupan masyarakatnya sederhana, pakaian hitam merupakan identitas warga masyarakatnya. Bangunan rumahnya seragam dan semuanya menghadap ke utara, masyarakatnya pun masih menjaga kelestarian hutan sekitar desa mereka. Jika kita ingin memasuki kawasan ini maka kita pun harus memakai pakaian hitam, melepas atribut yang bersifat duniawi dan berjalan tanpa alas kaki, sebagai tanda penghargaan dan rasa persaudaraan.

Catatan Kecil

Waktu cuti bersama selama 3 (tiga) hari ternyata tidaklah cukup untuk mengeksplorasi Bulukumba secara keseluruhan, masih ada juga spot yang terlewat, antara lain : makam Dato Tiro, pantai Samboang, Mandala Ria dan pemandian alam Bravo. Sekedar referensi dari kami, bahwa perjalanan ini kami mulai dari Makassar dengan menumpang angkutan umum (costing : @Rp. 35.000,-), kemudian melanjutkan perjalanan ke Bira (costing : Rp. 15.000,-). kami memilih untuk stay di Bira selama 2 (dua) malam karena di sini tersedia cukup akomodasi penginapan/bungalow murah (dari Rp. 50.000,- hingga Rp. 100.000,- per nett.) dan tempat makan (bagi kami yang sederhana, dan di sini banyak tersebar). Di samping itu pertimbangan kami stay di Bira karena dari sini kita bisa ke Tanah Beru dan Pantai Lemo-Lemo dalam sekali jalan (tersedia transportasi angkutan umum pasaran pagi dan siang hari, hingga sekitar jam 15.00 dengan costing @Rp.7.000,-, untuk ke Lemo-lemo, kita bisa naik ojek dari tugu kapal phinisi @Rp.7.500,-). Nah, untuk ke kebun karet dan kawasan adat Amma Toa Kajang, kita juga dapat naik angkutan umum dari Bira (costing : @Rp. 7.000), turun hingga menemukan kendaraan umum lainnya yang berwarna hitam (maaf, saya lupa mencatat nama jalannya). Dengan menggunakan jalur angkutan umum ini kita dapat menyinggahi perkebunan karet dan daerah kajang dalam sekali perjalanan, kalau bisa negosiasikan saja dengan sopir angkutannya untuk singgah sebentar di perkebunan karet sebelum ke Kajang. Untuk masuk ke kawasan adat, kita bisa naik ojek sekaligus merupakan pemandu kita untuk masuk ke kawasan adat, tarifnya tergantung kesepakatan, apakah kita akan masuk lebih dalam atau hingga tapal batas. Untuk masuk lebih dalam ke kawasan adat, kita berjalan kaki dari tapal batas daerah terlarang dan harus memakai pakaian hitam, tanpa kamera, peralatan teknologi dan alas kaki, serta terlebih dahulu meminta izin ke pihak desa setempat. Kita dapat pula mencoba metode hitchikking dari Makassar ke Bulukumba, untuk menekan budget transportasi, cukup ideal untuk dicoba mengingat jalur darat Makassar-Bulukumba terhitung cukup ramai.

Dokumentasi Gambar 
Dari atas ke bawah : 
Lokasi Pantai Bira : "Setenang Sang pagi" - "Pantai Bira Dalam Balutan Slow Speed" - "(Bukan) Vanilla Twilight" - "Menangkap Emas-Nya di Pagi Hari" - "Semangat Pagi" - "Pulang"
Lokasi Tanah Beru : "Menunggu" - "Mengintip Samudera"
Lokasi Pantai Lemo-Lemo : "Selembut Sutera" - Warna-Warni Lemo-Lemo"
Lokasi Perkebunan Karet : "Hening" - "Daeng Koboi Penyadap Karet" - "Kena Getah"
Lokasi Kawasan Adat Amma Toa : "Tapal Batas Daerah Terlarang" - "Bersahaja" - "Respect"


Catatan Foto : >>>Masih newbie, jadi mohon bimbingan, kritik dan sarannya, terima kasih.... :)

['O]
 







@dii Mempersilahkan Anda Untuk Membaca Selengkapnya...

Kamis, 28 April 2011

I La Galigo Akhirnya Berlabuh di Makassar (2/2)


Ketika Epos Fenomenal Berada Di Tangan Tim Kreatif Terbaik
[Standing Ovation, Minggu 24 April 2011]

Tim Kreatif Pertunjukan I La Galigo di Benteng Ujung Pandang, Fort Rotterdam tanggal 23 dan 24 April 2011, sebagai berikut:

Robert Wilson
(Penyutradaraan, Desain Panggung dan Konsep Pencahayaan)
The New York Times menjuluki Robert Wilson sebagai sosok menjulang dalma dunia teater eksperimental. Karyanya memadukan beraneka macam media artistik, gerak gebungan, tari, lukisan, pencahayaan, desain perabot, patung, musik dan teks dalam sebuah keseluruhan yang menyatu. Karya-karya pementasannya antara lain, Death Destruction & Detroit (1979) dan Death destruction & Detroit II di Schaubuhne (1987), The Black Rider (1991) dan Alice (1992) di Thalia. Ia juga menerapkan kaidah pemanggungannya ke repertoar opera termasuk parsifal di hamburg (1991) dan Houston (1992), The Magic Flute (1991), Madame Butterfly (1993), Lohengrin di Metropolitan Opera, New York (1998). Wilson juga menggarap Produksi yang bersumber dari hikayat Indonesia, I La Galigo yang main di berbagai tempat di dunia termasuk di Lincoln Center Festival pada musim panas 2005. Sederet penghargaan pun pernah diterimanya, yang teranyar adalah gelar Commandeur of the Ordre des arts et des letters dari pemerintah Prancis dan juga meraih Medal for Arts and Science dari Kota Hamburg (2009) dan Hein Heckroth-Prize for set Design (2009)

Rhoda Grauer
(Adaptasi Teks dan Dramatologi)
Rhoda Grauer sudah memproduksi, menyutradarai dan menulis untuk teater, televisi dan radio selama 30 tahun lebih. Karyanya telah mendapatdukungan antara lain dari National Endowments for the Humanities and the Arts; Freeman Fondation, Lila Wallace Reader’s Digest Fund, The Ford Fondation, Rockefeller, japan dan Hoso Bunka Foundations, the Asian Cultural Council dan masih banyak lagi. Produksi medianya menerima penghargaan termasuk Emmy, Ohio State Award dan Golden Globe of Montreux. Selama 2006 – 2010, Grauer menjadi Dekan School of Visual and performing Arts, C.W. Post Campus/ Long Island University.

Rahayu Supanggah
(Komposer dan pengarah musik)
Lahir pada tahun 1949 dari keluarga dalang desa yang miskin, karenanya dia bercita-cita mengangkat derajat kesenian tradisi Indonesia terutama gamelan ke forum dunia. Tekadnya mantap ketika ia diikutkan dalam misi kesenian kepresidenan ke Cina, korea dan jepang pada 1965. Sejak itu Supanggah mulai melakukan pembaharuan pemanggungan gamelan dan menciptakan musik kontemporer yang berakar pada seni tradisional. Garapan musiknya untuk film Opera jawa yang disutradarai Garin Nugroho membuatnya dinobatkan sebagai komposer terbaik pada SACEM Film Festival di Nantes, festival Film Asia di Hongkong dan festival Film Indonesia di jakarta.

Di samping nama-nama tersebut di atas, pertunjukan I La Galigo ini didukung pula oleh :
Restu Imansari Kusumaningrum – Koordinator Artistik
Joachim Herzog – Desain Kostum
Ann-Christin Rommen – Ko-sutradara
A.J. Weissbard – desain tata Cahaya
Christophe Martin – Kolaborator Desain panggung
Andi Ummu Tunru – Master Tari
Sue Jane Stoker – Associate sutradara/penulis dramaturgi
 Djanti Soekirno – Asisten Desainer Prop
Proffessional Artist Cosmetics – Martha Tilaar Tata Rias
BIN House – Kain dan Pembuatan Kostum

Pemain :
Abdul “Simon” Murad – Ahmad Rais – Andi Nur Evi – Anjas Wirabuana – Ascateony Daengtanang Maladjong – Atika Sahriyanti – B. Kristiono Soewardjo – Didi Annuriansyah Hasyim – Djamal April Kalam – Erythrina Baskorowati – fahmi Paramita Amalya – Faizal “Ical” Yunus – Fitriyah Ali imran – Hardiyanti Matuladang – Hendra Setiawan – I Ketut Rina – Indra Widaryanto – Indrayani Djamaluddin (Nina) – Johar Linda – Jusnaeni Fachruddin – Kadek Tegeh Okta WM – M. Fitrik (asisten pelatih penari) – M. Gentille “Illenk” Andi Lolo – Mak Cidda – Miftahul Jannah – Muhammad Agung Kordova – Reny Sulastri – Ridwan Amar – Samsari Hatipe – Satriani kamaluddin – Simson Lawari – Sitti Aisyah – Sri Qadariatin – Taufik “Aco” Ismail – Tenri lebbi – wangi Indriya – widyawati – Yusan Budiawan Nadjamuddin

Pemusik :
Abdi bashit – Andi Awaluddin – Arifin “Iping” Manggau – Basri baharuddin Sila – Danis Sugiyanto – Hamrin samad – Hendra A. Ridwan – I wayan Sadera -  Imran rauf – Naslan Nasri – Peni Chandra Rini – puang Matoa  Saidi – Sangmangawaru -  Sohiling Bin Dorahing – Sri Joko Raharjo – Syamsuddin – Zamraful Fitria

Dukungan :
Change Performing Arts
Yayasan Bali Purnati
The Watermill Center
Kepanitiaan Makassar di bawah Dewan Pelindung  Bapak H.M. Jusuf Kalla dan diketuai oleh Bapak Tanri Abeng.



[Ilustrasi gambar / foto : Koleksi Pribadi]
Download Lengkap File Lengkap Foto (5184 x 3456 px.) di Sini
@dii Mempersilahkan Anda Untuk Membaca Selengkapnya...

I La Galigo Akhirnya Berlabuh di Makassar (1/2)


Sutradara, Desain Panggung dan Konsep Tata Cahaya :
Robert Wilson
Musik :
Rahayu Supanggah
Adaptasi Teks dan Dramaturgi :
Rhoda Grauer
Koordinasi Artistik :
Restu I. Kusumaningrum
Desain Kostum :
Joachim Herzog
Desain Tata Cahaya :
A.J. Weissbard
Kolaborator Desain Panggung :
Christophe Martin
Desain Kain dan Koordinasi Kostum :
Yusman Siswandi, Airlangga Komara
Master Tari :
Andi Ummu Tunru



“Dalam kisah ini saya terpesona oleh kekuatan penolakan cinta dua saudara kembar dampit. Mereka saling mencintai bahkan sebelum lahir dan hidup mereka akan dibentuk oleh upaya yang sia-sia mereka untuk menghindari berbuat salah. Namun cinta tidak pernah berakhir. Sawerigading akan selalu terhela oleh senyum mempesona saudarinya, We Tenriabeng, yang kemudian mengirimnya pergi.” (Robert Wilson – Director Pementasan I La Galigo)


Ketika Plan A Gagal, Masih Ada Plan B
[Kurang lebih, seminggu sebelum pertunjukan]

*Notes*
“ Rencananya begini......
Plan A : Berburu dokumentasi gambar setiap momen kreatif di panggung, karena  terkesan dengan siluet panggung yang kaya warna.
Dan .....
Plan B : Menikmati imaji dan happening sebuah pertunjukan teatrikal kelas dunia yang Tersaji dari  bibir panggung.
hmm...
PERFECTO !!! “
(Jakarta, 11 April 2011)

*Notes*
“Besok, action plan : Hunting Tiket Pertunjukan I La Galigo”
(Makassar, 12 April 2011)
....................
Rencana awal sepertinya akan berlangsung sedemikian sempurna, maka perburuan tiket pun dimulai,  pilihannya tanggal 23 April 2011 jika ingin bersama Pak Jusuf Kalla, atau tanggal 24 April 2011 dengan keuntungannya, harga tiket yang lebih variatif. Untuk pertunjukan yang potensial crowded, jangan pernah membeli atau memesan tiket saat hari “H”, dan hal tersebut terbukti saat kami memesan tiket melalui distributor tiket resmi pertunjukan (Tiara Josodirjo & Assosiates) untuk pertunjukan tanggal 23 tiket sudah sangat terbatas padahal pertunjukannya sendiri baru akan berlangsung seminggu kemudian, itupun hanya tersisa banyak di kelas utama, Platinum (untuk tanggal 24 kelas utamanya Titanium, yang ditempati oleh undangan kehormatan pada pertunjukan tanggal 23).  

Tetapi,  di siang hari, 14 April 2011 kami mendapatkan e-mail konfirmasi tentang aturan dan tata cara menonton pertunjukan, seperti juga yang tertera di balik tiket pertunjukan, yang salah satu poinnya meminta agar penonton tidak mengambil dokumentasi selama pertunjukan berlangsung..... :(


Awwiiii... akhirnya hanya tinggal plan B, dengan sedikit tambahan di hari jumat tanggal 22 April 2011, bisa ambil dokumentasi gambar gladi resiknya. Walaupun rencana ini terhitung tidak sukses diakibatkan gladinya ternyata hanya menampilkan satu scene pembuka sekitar 30 menitan itupun hanya cek sound & lighting... :(

Tetapi, tidak apa-apa... setidaknya masih ada plan B, kapan lagi ... :)

Sureq Galigo: Belajar Menghargai Warisan Budaya Leluhur
[Jumat, 22 April 2011, sehari sebelum hari “H”]

Hari pertama long weekend, media mulai menampilkan berita pertunjukan ini, seiring dengan kesibukan yang hiruk-pikuk di sekitar Jl. Ujung Pandang depan Fort Rotterdam, lokasi pementasan. Antusiasme masyarakat juga tercermin dari tingginya minat untuk menyaksikan gladi resik pertunjukan I La Galigo. Bahkan hal yang juga menggembirakan bahwa sebagian besar dari mereka adalah kaum muda bangsa ini, para pelajar, mahasiswa, profesional muda dari berbagai latar bidang pekerjaan dan stratifikasi sosial ekonomi yang beragam.  Penghargaan kami juga terhadap mereka  ini, yang setidaknya membuktikan bahwa kesadaran untuk mengapresiasi nilai budaya bangsa, sekaligus mendukung kelestariannya, mampu mereka tunjukkan dengan (bahkan) menyisikan sebagian besar uang saku untuk membeli tiket pertunjukan  yang untuk ukuran mereka yang masih tergolong  pelajar atau mahasiswa ataupun golongan masyarakat kelas menengah ke bawah cukup tinggi, namun  mereka tetap melakukannya. Setidaknya, jika berbaur bersama mereka, bangsa ini tidak perlu terlalu khawatir akan kehilangan jati dirinya, bangsa ini tidak perlu pula khawatir dengan klaim negara lain akan warisan budayanya karena masih “ada” generasi bangsa ini yang masih peduli dengan kebudayaannya.. :salut:

Sureq Galigo juga dikenal sebagai La Galigo, adalah hikayat asal-muasal orang Bugis. Hikayat ini mulanya berkembang sebagai cerita lisan yang dikisahkan banyak pendongeng dari beberapa generasi sebelum abad ke-14, ketika kemudian aksara Bugis mulai ditemukan akhirnya hikayat ini mulai dituliskan. Sekarang ini, La Galigo hadir dalam bentuk lisan maupun tulisan yang saling mempengaruhi selama berabad-abad. Ada 100 lebih naskah yang diketahui dengan panjang 6.000 lebih halaman folio sehingga menjadikan Sureq Galigo hingga saat ini menjadi teks terpanjang di dunia, lebih panjang daripada Mahabharata.

Sekalipun banyak yang menganggap Sureq galigo adalah karya penting sastra dunia, sedikit saja orang – termasuk orang Bugis – yang mengetahui keberadaannya. Hanya sedikit yang masih bisa membaca dan memahami bahasa puitis kuno dan membaktikan diri mereka mentransliterasi dan menerjemahkan Sureq galigo ke dalam Bahasa Indonesia. Yang paling terkemuka di antara mereka adalah Drs. H. Muhammad Salim (alm.) yang sayangnya tidak sempat melihat langsung pertunjukan ini di kotanya sendiri, Makassar.

Dari Pentas Dunia Untuk Kembali Ke Kampung Halaman
[Sabtu, 23 April 2011, Hari pertama pertunjukan]

Saat ini I La galigo sudah mendapatkan pengakuan dunia. Edward Rothstein dari The New York Times, misalnya menyebutnya sebagai “stunningly beautiful music-theater work” ketika lakon ini menjadi pembuka festival Lincoln Center di New York, Amerika Serikat, Pada tahun 2005. Pengakuan yang sama juga datang pada pentas perdana (world premier) di Esplanade, Singapura pada tahun 2004 dan selama tur keliling di kota-kota besar lainnya selama kurun 2004 – 2008.

Adalah Rhoda Grauer dari AS, yang gigih mengangkat epik ini ke pentas dunia. Bermula saat pembuatan film Bissu pada tahun 1998, Melalui riset film yang dilakukannya, ia berkesimpulan bahwa untuk memahami bissu seseorang harus tahu terlebih dahulu tentang Sureq Galigo. Riset ini akhirnya membawa gairah pada Grauer untuk mengangkat epik La Galigo ke dalam bentuk teater. Dan nama yang jadi pilihan utama untuk menyutradarai pertunjukan ini adalah Robert wilson.

Robert Wilson disebut oleh The New York Times sebagai figur puncak teater eksperimental dunia. Salah satu karyanya Einstein on the beach (1976) telah mengubah pandangan konvensional sebuah pertunjukan opera. Tidak mudah menggaet  seorang Wilson pada saat itu, dan dibantu oleh seorang Restu Imansari Kusumaningrum, maka Grauer dengan biaya sendiri datang ke New york untuk mempresentasikan Galigo pada Agustus 2001, setelah sebelunnya terjadi penjajakan dan pertemuan yang intensif dari tahun 1999 di Bali. Akhirnya Sang Sutradara setuju dan produser yang telah lama bekerja dengannya, Franco Laera dan Elisabetta di Mambro dari Change Performing Arts of Milan, Italia akhirnya sepakat untuk menangani urusan finansial.

Dengan penandatanganan ini, posisi Grauer dan restu dengan Change menjadi sejajar. Bali Purnati bertanggung jawab secara artistik, teks, seniman dan riset, sementara Change untuk logistik, teknis, finansial, serta keputusan akhir artistik. Ketika proyek ini memasuki babak yang menentukan, Bali Purnati menginginkan lakon ini sepenuhnya dimainkan seniman Indonesia dengan porsi terbesar seniman Sulawesi Selatan. Proyek ini memang sejak awal dimaksudkan mempromosikan Sulawesi Selatan. Bali Purnati juga ingin lakon ini dikembangkan dan dilatih di Indonesia. Akhirnya muncullah nama Rahayu Supanggah, etnomusikologis yang pernah menjadi Rektor Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta. Workshop pun digelar pada Desember 2002 dan pertengahan 2003.menghasilkan 40 orang pemain yang kemudian dimatangkan untuk pementasan dunia yang berlangsung di :

Singapura, Esplanade, Theatres on the Bay, 12 – 13 Maret 2004
Amsterdam, Het Muziektheater, 12, 14, 15 Mei 2004
Barcelona, Forum Universal de les Cultures, teatro Lliure, 20 -23 mei 2004
Madrid, Teatro Espanol, 30 mei – 2 juni 2004
Lyon, Les Nuits de Fourviere Rhome, 8 -10 juni 2004
Ravenna Festival, teatro Alighieri 18 – 20 Juni 2004
New york, Lincoln Center, 13 -  16 Juli 2005
Jakarta, Teater tanah Airku, TMII, 10 – 12 desember 2005
Melbourne International Arts Festival, 19 – 23 Oktober 2006

Taipei, Metropolitan Hall per taipei Arts Festival, 7 – 10 Agustus 2008
Makassar, Fort Rotterdam, 23 -24 April 2011-04-28


Terhanyut Oleh Lirih We Tenriabeng
[Saatnya Nonton, Minggu 24 April 2011]

Berikut ini adalah sinopsis pertunjukan dan cerita yang diangkat dalam Pertunjukan I La Galigo di Benteng Ujung Pandang, Fort Rotterdam tanggal 23 dan 24 April 2011. Perlu diketahui bahwa pertunjukan ini berlangsung dengan durasi efektif selama 2,5 jam dan tidak menggunakan isyarat verbal namun tampil sebagai bentuk teatrikal yang dipadu dengan tari, musik, tata cahaya panggung yang menurut kami sangat luar biasa.



Prolog : Akhir dan Awal Dunia Tengah Dikosongkan
I La Galigo berkeberatan : “Tunggu! Jika Dunia Tengah diakhiri sekarang, siapa yang akan ingat legenda Sawerigading? Aku, I Lagaligo adalah puteranya. Berikanlah aku waktu untuk menceritakan kisah keluargaku dan para dewa. “Maka, mulailah kisah I La Galigo.”

Adegan Satu : Penciptaan Dunia Tengah
Para dewa dari Dunia Atas dan Bawah setuju mengirim anak-anak mereka mengisi Dunia Tengah. Mereka tidak menjadi dewa jika tidak ada satu pun yang menyembah mereka. Patotoqe, dewa tertinggi Dunia Atas, memerintahkan anaknya Batara Guru turun ke Dunia Tengah. Guru ri Selleq, dewa dunia bawah memerintahkan putrinya We Nyiliq Timoq naik ke Dunia tengah. Karena mereka keturunan dewa, mereka menjadi penguasa kerajaan Luwuq. Ketika mereka menikah, puluhan sepupu dan pelayan mereka bergabung dengan mereka di Dunia Tengah. Dewi Sri membawa kesuburan bagi tanah dan orang-orang. Semua wanita di bumi melahirkan, kecuali Sang ratu.

“Patuhilah ananda kujadikan engkau tinas di bumi terbentang kayu Sengkonang atas namaku. Di saat engkau batara Guru tengah turun ke bumi lemparkanlah talatting mperreq agar jatuh ia menjadi tanah, menjelmakan kampung menegakkan gunung, aku akan menghembuskan angin menyabungkan badai. Lemparkan Siri Atakka ke sebelah kananmu Telleq araso ke sebelah kirimu, itulah yang akan menjadi hutan. Dan jika engkau telah mendekati bumi lemparkanlah wempong mani, itulah yang akan menjadi ular dan bermacam hewan.Tunduklah anakku ke arah Ruallete tadahkan tanganmu ke Pereetiwi...” (titah Patotoqe kepada anaknya, Batara Guru)

Adegan Dua: Kelahiran Si Kembar
Upacara-upacara untuk membantu persalinan yang sulit. Pendeta Bissu bersikeras bahwa persembahan darah harus “mengalir seperti sungai”. Orang-orang yang bertempur. Akhirnya sepasang kembar emas lahir, Sawerigading yang ditakdirkan menjadi raja pejuang besar, lahir dengan baju zirah lengkap. We Tenriabeng, saudara perempuannya, yang ditakdirkan menjadi pendeta, lahir dengan peralatan lengkap upacara Bissu. Sebuah ramalan memperingatkan orang tua mereka bahwa anak-anak ini ditakdirkan jatuh cinta. Untuk menghindari hubungan terlarang itu, yang akan memicu kehancuran kerajaan, si kembar dipisahkan sejak lahir. Mereka tidak boleh pernah bertemu! Mereka dapat memiliki segalanya di dunia kecuali satu sama lain.

Adegan Tiga: Menjelajahi Dunia
Ketika kembar menjadi dewasa, We Tenriabeng tersembunyi dalam tempat rahasia istana, dan Sawerigading dan para sepupunya berlayar menjelajah dunia. Setelah sebuah petualangan yang gagal untuk menghidupkan jiwa seseorang wanita muda cantik yang terjebak di pulau orang mati, Sawerigading yang sedih diberitahu bahwa wanita paling cantik di dunia, yaitu kembarannya, tinggal di bagian rahasia istana di tanah kelahirannya. Diam-diam ia pulang untuk menemukannya.

Adegan Empat: Pertemuan Terlarang
Sesampainya di istana, Sawerigading menggunakan kekuatan gaibnya untuk membuat semua orang istana tertidur dan menyelinap ke kamar We Tenriabeng. Sawerigading terpesona oleh kecantikan saudara perempuannya yang luar biasa, dan menyatakan cintanya. We Tenriabeng juga segera terkesan dengan kakaknya, tapi menolak dia sambil menjelaskan kutukan yang akan menimpa kerajaan jika mereka saling mencintai. Sawerigading meninggalkan kamar adiknya dan langsung menghadap ayahnya. Dia meminta izin menikahi adiknya. “Tidak. Kau harus mendahulukan kepentingan kerajaan daripada kesenanganmu sendiri.”

Adegan Lima: Kebingungan dan Keputusasaan
Sawerigading pergi untuk menghibur dirinya dengan perempuan dan adu ayam, tetapi ia tidak dapat melupakan We Tenriabeng. Dia meminta ayahnya izin tinggal satu tahun dengan adiknya. Jika tidak setahun, sebulan, sehari atau satu jam! “Tidak, bahkan sekedipan mata pun tidak,” jawab ayahnya. “Tidak!” Hampir gila dengan hasrat Sawerigading memutuskan bahwa jika ia tidak dapat memiliki We Tenriabeng, yang lain juga harus menderita rasa sakit yang sama ia rasakan. Dia mulai berkelahi dan membunuh orang-orang kerajaan. Satu-satunya yang bisa menghentikannya adalah adiknya. Di tengah kekacauan, We Tenriabeng muncul.

Adegan Enam: Sang Putri Dalam Kuku Ibu Jari
We Tenriabeng muncul dari istana. Semuanya menghilang dan si kembar berdua saja. We trenriabeng bertanya mengapa Sawerigading ingin menikahinya, padahal dia bisa memiliki siapa pun di bumi. “Karena kecantikanmu, wajahmu, lekuk punggungmu, kulitmu yang bercahaya,” kata Sawerigading. We Tenriabeng menjawab: “Jika hanya tubuhku yang kauinginkan, ada jalan keluarnya”. Lihatlah ke dalam kuku ibu jariku dan kau akan melihat wajah sepupu kita, We Cudaiq, yang bagai pinang dibelah dua denganku. Ia adalah putri Cina dan ditakdirkan untuk menjadi pengantinmu.” We Tenriabeng memantrai Sawerigading supaya bermimpi bercinta dengan We Cudaiq. Karena Sawerigading masih enggan meninggalkan adiknya. We Tenriabeng bersumpah bahwa kakaknya itu tidak jatuh cinta kepada We Cudai, dia akan menerimanya apa pun yang akan terjadi. Sawerigading setuju pergi, tetapi ia tidak memiliki sebuah kapal yang cukup besar untuk membawanya ke Cina yang jauh sekali.

Adegan Tujuh: Pohon Agung
Dengan bantuan para dewa, Welenrenge – pohon terbesar dan paling suci di dunia – ditebang dan lantas tenggelam ke Dunia Bawah dan muncul sebagai armada kapal. Sawerigading memohon pengampunan dari pohon atas pemotongan pohon suci itu, dan bersumpah tidak akan kembali ke Luwuq. Sawerigading dan pohon sama-sama telah terputus akar mereka selamanya. Si kembar mengucapkan salam terakhir perpisahan mereka dengan janji bahwa, biarpun mereka tidak bisa bersama, mungkin anak-anak mereka akan menikah. We Tenriabeng naik ke Dunia Atas, tahap akhir dalam perubahannya menjadi pendeta Bissu. Sawerigading bersumpah tidak lagi kembali ke Luwuq, dan berangkat dengan armadanya ke Cina yang jauh. Air mata We Tenriabeng jatuh sebagai hujan lembut mengguyur Sawerigading dan armadanya.

Adegan Delapan: Takdir Disangkal
Di Cina, We Cudaiq, dikelilingi oleh dayang-dayangnya, sedang berdandan. Setelah tiba, Sawerigading mengirimkan burung terpercaya untuk memata-matai We Cudaiq. Si burung kembali dan melaporkan bahwa We Cudaiq lebih cantik daripada We Tenriabeng. Sawerigading meminta izin Raja dan Ratu Cina untuk menikahi putri mereka dan mulai mengirim mahar yang banyak sekali ke istana. Dayang-dayang We Cudaiq salah mengira bahwa salah seorang sepupu Sawerigading adalah pangeran itu, dan melaporkan ke We Cudaiq bahwa laki-laki yang dijanjikan kepadanya berwajah jelek, kotor, liar, jorok dan kasar. Meskipun serupa benar dengan We Tenriabeng, perangai We Cudaiq sebaliknya, suka mementingkan diri sendiri dan dangkal. Takut tampak bodoh menikah dengan seorang liar berwajah jelek, dia menolak pernikahan. Mahar segera dikembalikan. Para sepupu Sawerigading meyakinkannya bahwa ia harus bertempur untuk kehormatana diri dan rakyatnya. Dia setuju dengan syarat bahwa We Cudaiq tidak terbuka. Hampir semua orang kerajaan dibunuh. Ayah We Cudaiq menegaskan kepada putrinya bahwa kalau ia tidak menikahi Sawerigading, We Cudaiq hanya akan dijadikan gundik. We Cudaiq setuju dengan syarat kerajaan dipulihkan, semua prajurit dihidupkan kembali, pernikahan tidak dirayakan, dan dia tidak sudi menerima Sawerigading pada siang hari atau melihat wajahnya.

Adegan Sembilan: Cinta yang Ganjil
We Cudaiq melipat dirinya dengan tujuh sarung, terkunci di belakang tujuh gerbang yang dijaga ketat, dan menolak bertemu Sawerigading. Sedih dan kesal, Sawerigading tidak mau memaksakan dirinya kepada We Cudaiq, tapi angin membawa pesan dari adiknya yang telah mengamatinya dari tempat tinggalnya di dunia Atas. “WeCudaiq adalah takdirmu. Kau harus mengejarnya. Aku akan membantu.” Dua kucing ajaib yang dikirim oleh adik perempuannya dari Dunia Atas membantu Sawerigading berjalan ke kamar We Cudaiq. Dia terus berkunjung tiap malam, namun tetap We Cudaiq menolak menatap wajah Sawerigading. Dan We Cudaiq akhirnya hamil, namun ia menyembunyikan kehamilannya sementara Sawerigading pergi ke kerajaan lain. Ketika si anak lahir ia memerintahkan pelayannya, “Lemparkan anak itu ke sungai dan umpankan ke anjing-anjing, aku tidak pernah ingin memandang anak orang liar itu!” Namun Sawerigading mengetahuinya, lalu mengambil putera mereka, I La Galigo, dan membesarkan dia.

Adegan Sepuluh: I La Galigo dan Akhir Dunia Tengah
Tahun-tahun berlalu sendirian dan kesepian, We Cudaiq mengetahui bahwa anaknya telah tumbuh menjadi seorang pria muda yang tampan dan ia rindu melihat putranya. Sebuah sabung ayam besar diatur, semua orang di kerajaan harus hadir. Melihat I La Galigo dan Sawerigading. We Cudaiq terpana oleh keelokan mereka. “Siapa anak yang tampan dan siapa pula orang jatmika yang bersamanya itu?” tanya We Cudaiq kepada ayahnya, “Ia pasti dikirim oleh para dewa untukku”. “Itu adalah anakmu dan orang itu adalah suamimu, yang pernah kau siksa dan tolak. We Cudaiq memancing anak dan suaminya datang ke istana. Akhirnya, berdiri bersama-sama, bertatap muka dalam terang hari, We Cudaiq jatuh cinta setengah mati kepada Sawerigading. I La Galigo, anak muda yang sombong dan manja, sekarang tinggal sendirian. Dia adalah seorang pemuda mata keranjang, nakal dan bisa disebut pecundang yang buruk. Sementara ia menjelajah dari pulau ke pulau, menikahi banyak perempuan dan mencuri istri orang lain, suara ayah Sawerigading terdengar. Semua keturunan para dewa harus kembali ke Luwuq untuk reuni keluarga.

Epilog: Akhir dan Awal
Tidak dapat melupakan adiknya, Sawerigading melanggarsumpahnya dan kembali ke Luwuq. Permintaan si kembar agar tidak boleh saling bertemu dikabulkan, Sawerigading dan We Tenriabeng pun berjumpa. Tiba-tiba suara patotoqe memberitahu kepada semua bahwa Dunia Tengah akan dibersihkan. Semua keturunan dewa harus kembali ke Dunia Atas dan Dunia Bawah. Sawerigading menjadi penguasa Dunia Bawah; We Tenriabeng menjadi penguasa Dunia Atas. Dunia tengah jatuh dalam kekacauan. Setelah beberapa generasi, putri Sawerigading dan putra We Tenriabeng akan dikirim ke Dunia Tengah. Mereka akan memenuhi sumpah orang tua mereka, menikah dan menjadi penguasa baru Dunia Tengah. Pelangi yang menjadi sarana dewa-dewa melakukan perjalanan di antara ketiga dunia digulung dan disimpan. Gerbang yang menghubungkan Dunia Tengah dengan Dunia Atas dan Bawah tertutup selamanya. Para Dewa tidak lagi campur tangan langsung dalam urusan manusia. Sepanjang manusia menentukan jalan hidup mereka sendiri di dunia baru tanpa dewa.

Sedangkan ilustrasi musik yang digarap oleh Rahayu Supanggah sepanjang pertunjukan meliputi:
#1. Dunia Mula-Mula – Beginning of the World (10.30)
#2. Mawar Mekar – Flowering Rose (06.54)
#3. Kuncup Bunga Karang – Flower Buds (03.18)
#4. Perayaan Pada Ada – Celebration of Life (05.20)
#5. Pertemuan Pertama – First Meeting (04.11)
#6. Turbulence (04.11)
#7. Menggantung Asa – Hanging Hope (12.17)
#8. Si Burung Pembawa Pesan – The Messenger Bird (06.57)
#9. Pra Bumi – Before Earth (14.58)
#10. Mimpi oh Tenri – Dream oh Tenri (11.33)
#11. Menimba Alam – Discovering Nature (07.11)
#12. Cinta Dalam Karung – Love in Disguise (11.02)
#13. Menimbang Harga – Weighing The Dignity (03.22)
#14. Welenrennge (08.00)
#15. Grand Voyage (04.07)
#16. Menjelang Fajar – Before Sunrise (05.08)
#17. Bertepuk Dalam Kasih – Applaud in Love (08.06)


Bersambung ke Bagian Dua tulisan ini

[Ilustrasi gambar / foto : Koleksi Pribadi]
@dii Mempersilahkan Anda Untuk Membaca Selengkapnya...

Selasa, 19 April 2011

Inside Simplicity (004)

File lengkap foto (3456 x 5184 px.)
 

Judul :
"Sayap Selatan Masjid Raya Makassar"

Lokasi :
Masjid Raya Makassar, Makassar - Indonesia

Shooting Date/Time :
16/04/2011  19:17:39

Data Teknis :
 
Canon EOS 550D - Lens: EF-S18-55 f/3.5-5.6 IS - Focal Length: 41.0mm - Tv: 1/5 - Shooting Mode: Aperture-Priority AE - Av: 8.0 - Evaluative Metering - ISO 800 - One-Shot AF - Canon DPP - Image quality: RAW - Picture Style: Landscape.

Komentar :
Masih newbie... Jadi, Mohon Bimbingan, Kritik dan Sarannya. Terima Kasih... :)


[Ilustrasi Gambar/Foto : Koleksi Pribadi]
@dii Mempersilahkan Anda Untuk Membaca Selengkapnya...

Minggu, 03 April 2011

Inside Simplicity (003)


Desktop wallpaper (1024 x 768 px.)
 

Judul :
"Saat Bumi yang Ceria Menghibur Langit yang Muram"

Lokasi :
Sisi Jalur Hiking & Mountain Bike, Desa Bantimurung, Maros - Indonesia

Shooting Date/Time :
02/04/2011  13:38:32

Data Teknis :
Canon EOS 550D - Lens: EF-S18-55 f/3.5-5.6 IS - Focal Length: 49.0mm - Tv: 1/250 - Shooting Mode: Aperture-Priority AE - Av: 8.0 - Evaluative Metering - ISO 100 - Autoexposure Bracketing: -2/3,0,2/3 - Hitech Filter 85 Reverse ND Grad-0.9 (optional) - Lens Hood (optional) - AI Focus AF - Canon DPP: White Balance Mode Daylight --> Color Temperature 7500 Kelvin / Image quality: RAW - Picture Style: Landscape.

Komentar :
Masih newbie & hasilnya masih layak untuk diinjek-injek. Jadi, Mohon Bimbingan, Kritik dan Sarannya. Terima Kasih... :)


[Ilustrasi Gambar/Foto : Koleksi Pribadi]
@dii Mempersilahkan Anda Untuk Membaca Selengkapnya...

Senin, 07 Maret 2011

Resensi Buku Menjadi Raksasa Dunia Karya Robyn Meredith (Bagian 1/2)


Judul Buku : 
Menjadi Raksasa Dunia : Fenomena Kebangkitan India dan Cina yang Luar Biasa dan Pengaruhnya Terhadap Kita
Karya : 
Robyn Meredith
Diterjemahkan dari Buku : 
The Elephant and The Dragon : The Rise of India and China and What it Means for All of Us  (New York : W.W. Norton & Company, 2007)
Penerbit, Tahun & Jumlah Halaman : 
Penerbit Nuansa, 2010, 240 Halaman

Sebuah buku best seller New York Times, mengupas secara singkat tentang fenomena kebangkitan ekonomi Cina dan India, baik dari sisi historis, politik, maupun interaksi kedua negara ini terhadap dunia luar. Kenali dirimu maka engkau akan memenangi seribu pertempuran, nampaknya hal tersebut yang kami rasa menjadi pijakan seorang penulis sekaliber Robyn Meredith, - wartawati majalah forbes yang pernah terjun mengungkap pola transaksi investasi ilegal di AS, yang kemudian mendorong kongres untuk bersidang empat kali dan merombak peraturan perbankan dan IPO di AS -  bercerita banyak tentang bagaimana upaya Cina dan India untuk terus melakukan proses pembelajaran, inovasi dalam persaingan dunia dengan berfokus untuk melihat kondisi dalam negeri mereka masing-masing, dan mensinergikan semua potensi dan peluang yang ada dalam strategi pembangunan yang terbukti tepat sasaran.
Bukan sebuah kebetulan bahwa kedua negara tersebut berada di benua asia, dilewati oleh jalur sutera yang masyhur di kalangan para pedagang dunia masa lampau, sehingga secara latar budaya kedua negara ini memiliki banyak  kesamaan.
Hmm... jika ingin berpendapat, kami ingin katakan bahwa mereka pada mulanya dan mungkin sampai saat ini masih memiliki DNA bangsa asia, konservatif, sangat berhati-hati dan masih kental meletakkan tradisi turun temurun dalam struktur masyarakatnya.
Tetapi di buku ini, sifat konservatif itu dijelaskan telah dapat beradaptasi dengan perkembangan dunia yang ada, mulai melunak dan sedikit lebih pragmatis... :)
Temans, Kami Ingin Berkata Bahwa ... Mereka adalah Bangsa Pembelajar yang Hebat !!

 
Cina 
 
Sebuah lompatan revolusi dimulai seperempat abad yang lalu BUKAN oleh sebuah revolusi land reform ala komunis. Memang masih ada hubungannya dengan upaya utopia kominis yang egaliter dari seorang ketua Mao pada tahun 1949, yang menilai Cina adalah negara berpenduduk besar dengan berbasis agraris, sehingga memerlukan sistem kolektifikasi pertanian.

Tapi, bukan... bukan itu... kita maju beberapa tahun setelah itu, ketika sebuah model REFORMASI PEDESAAN mulai dikenal dari sebuah wilayah bernama Xiaogang,
"Delapan belas keluarga di Xiaogang berkumpul dan memutuskan untuk melanggar aturan pertanian kolektif cina yang terbukti menurunkan produktifitas pertanian daerah mereka. Sebagai gantinya mereka membagi lahan kolektif mereka di mana setiap keluarga bertanggung jawab atas sebuah kuota produksi." Walaupun versi cerita ini masih diragukan, namun memang benar, reformasi pertanian dari sebuah sistem ekonomi yang direncaknakan oleh pemerintah menuju bentuk ekonomi pasar modern. inilah yang menjadi inspirasi transformasi ekonomi Cina hingga saat ini.

Reformasi dan proses belajar ini kemudian diteruskan oleh Deng Xiaoping. Ia mencontoh negara etnis serumpunnya, Singapura yang modern, berteknologi maju, dengan perencanaan pembangunan yang konsisten, dan kebijakan-kebijakan probisnis yang terbukti mampu menjadi pembangkit ekonomi dan meningkatkan standar hidup rakyat dengan cepat. Cina mengadopsi semua itu, mulai secara pragmatis namun terbatas menerapkan sistem kapitalis, membuka kelonggaran regulasi perpajakan dan aturan usaha, menciptakan zona-zona ekonomi yang secara nyata pro bisnis (baca : kapitalistik).

Walaupun demikian Cina adalah Cina.... bayang-bayang runtuhnya Uni Soviyet dijawab dengan dingin melalui Tragedi Tiananmen, pemerintah Cina menerapkan quid pro quo gaya Singapura dengan rakyat Cina : partai komunis mengizinkan kebebasan ekonomi, tetapi tidak dengan kebebasan politik.

"Penindasan politik bukan satu-satunya sisa peninggalan sistem komunis di Cina. Bahkan di bawah rezim reformasi Deng, para teknokrat Cina terus merencanakan pembangunan ekonomi negara itu dengan menggunakan rencana pembangunan lima tahun (Repelita) yang kaku seperti yang telah mereka andalkan pada era Mao. Setelah mereformasi daerah pedesaan Cina dan kemudian sebagian kota-kotanya dengan zona-zona ekonomi khusus, Deng memulai upaya modernisasi yang jauh lebih luas. Karena birokrat Cina terbiasa dengan ekonomi yang terencana - yang sebelumnya digunakan untuk mengontrol harga dan tingkat produksi - Deng menggunakan Repelita itu untuk memetakan pergerakan menuju Kapitalisme. Repelita merupakan teknik yang dipinjam Mao dari Uni Soviet, namun teknik tersebut masih digunakan di Cina sampai saat ini."
(Robyn Meredith, Menjadi Raksasa Dunia : hal. 36)

Semuanya berlanjut, tonggak-tonggak sejarah seakan terbias melalui pembangunan yang megah. Selama tahun 1990-an, Cina berpacu untuk meningkatkan produksi minyak dan gas alamnya. Periode 1990-2003 terjadi peningkatan empat kali lipat kapasitas generator pembangkit listrik yang ada. Kini mereka bersemangat membangun pembangkit listrik tenaga nuklir untuk meningkatkan energi sebanyak tiga kali lipat hingga 2020. Cina berencana untuk membangun rel sejauh 100.000 km hingga 2020, dengan seratus proyek pembangunan rel yang sedang dikerjakan dan menginvestasikan 240 miliar dolar untuk pembangunan rel sampai 2015. Dan walau kota-kota besar Cina telah memiliki bandara-bandara baru, negara itu bermaksud untuk membangun 17 miliar dolar untuk membangun sekitar empat puluh bandara lagi sampai 2010.

Proyek infrastruktur yang paling mencolok dilakukan oleh Cina adalah pembangunan jalan-jalan raya baru. Pada tahun 1989, Cina hanya memiliki 270 Km jalan bebas hambatan; hingga 2004 mereka telah membangun 34.400 km. Dan hingga tahun 2020 Cina berencana memiliki 88.000 km jalan bebas hambatan, atau sama dengan total panjang seluruh jalan raya Amerika. Pada tahun 2000, di dalam repelita kedelapan dengan tujuan meredam protes dan kekecewaan oleh pertumbuhan yang tidak seimbang dengan ledakan daerah pesisir, pemerintah mulai mengkampanyekan “GO West” untuk membangun Cina Barat. Antara 2000-2003, pembangunan dimulai pada lima puluh proyek skala besar di barat Cina yang menghabiskan biaya hampir 90 miliar dolar.

Pendapatan para petani naik dari rata-rata $16 per tahun menjadi $317  per tahun selama dua puluh lima tahun, sementara pendapatan rata-rata nasional pada tahun 2001 mampu mencapai $2000. Namun sebenarnya titik balik ledakan perekonomian cina itu baru terjadi pada pertengahan tahun 1990-an. Pada masa sebelum itu, perusahaan asing bergerak hati-hati untuk memasuki pasar Cina walaupun potensi pasar yang ada sangat besar, sekitar satu miliar, dengan asumsi pendapatan warga Cina akan tumbuh menjadi lebih dari dua kali lipat dalam satu dasawarsa. Hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah Cina yang mengharuskan investor asing pada beberapa industri untuk bermitra dengan perusaaan Cina. Pemerintah Cina pun sadar, seperti pepatah mereka, “tidur di ranjang yang sama, tetapi mimpinya berbeda”. Pada saat itu, penguatan institusi perusahaan-perusahaan lokal belum semantap sekarang. Perusahaan Cina juga masih berjalan dengan bersusah payah masuk ke persaingan internasional. Ketika Cina membuka  diri terhadap pasar luar, para manajer lokal masih asing dengan aturan main pasar bebas dan teori bisnis modern, tidak bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan swasta dan pabrik-pabrik efisien yang dikelola perusahaan multinasional asing.

Setelah beberapa tahun beradaptasi, kebanyakan perusahaan asing sudah lebih paham dengan kondisi yang ada, pemerintah Cina pun juga mulai mengizinkan perusahaan asing pada banyak industri untuk mendapatkan kepemilikan penuh atau kendali terhadap perusahaan mereka di Cina. Berdasarkan data dari Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan Amerika Serikat, sekitar 80 persen dari perusahaan Amerika Serikat di Cina terbukti menguntungkan.

Cina juga terbukti mampu mengadaptasi konsep “Disassembly Line”, sebuah pergeseran jalur perakitan industri abad ke-21. Disassembly line menjadikan perusahaan-perusahaan sangat efisien, dengan membuat setiap bagian produk-jadi di negara yang biayanya paling murah, kemudian memindahkan bagian itu ke pabrik berikutnya di dalam jalur perakitan. Pendekatan ini juga membuat setiap perusahaan dapat memusatkan perhatian pada apa yang ia lakukan dengan cara yang paling produktif, menekan  harga bagi para konsumen di seluruh dunia dan menyebarkan pekerjaan ke seantero globe. Sistem ini kemudian menurunkan proses outsource yang juga diadopsi oleh pemerintah India. Walaupun sistem ini cukup rentan dengan resiko globalisasi seperti stabilitas politik Cina, ancaman terorisme, hingga wabah penyakit semisal flu burung. Namun perusahaan asing masih betah untuk berinvestasi di suatu negara jika perhitungan akan resiko itu tidak melampaui pemangkasan biaya dan efisiensi yang bisa dilakukan semisal upah tenaga kerja yang bersaing. Tidak hanya oleh pemerintah, sektor swasta lokal pun menangkap peluang ini, yang bagi kami dapat disebut sebagai sebuah kado globalisasi. Li & Feng misalnya, siapa sangka sebuah perusahaan tanpa gembar-gembor ini mampu mengambil bagian dalam 3,7 persen pangsa pasar impor sandang AS senilai $2,7miliar. Wow!!!, sebuah angka yang fantastis, tentunya.

Kendati demikian, kecemerlangan dari ledakan perekonomian Cina tersebut masih menyisakan banyak tantangan berat. Para pejabat Cina sendiri berpendapat bahwa tingkat PDB per kapita tahunan Cina akan tumbuh menjadi $3000, namun itu baru setelah tahun 2010 (saat buku ini ditulis pada tahun 2007). Meskipun kebanyakan rakyat Cina yang berjumlah 1,3 miliar itu menyaksikan pendapatan mereka meningkat sangat dramatis, mayoritas rakyat Cina tetap miskin, mereka hanya tidak semiskin sebelumnya. Penghasilan bersih per kapita di wilayah pedesaan, tempat sebagian besar orangCina hidup, hanyalah $400 pada 2005, bandingkan dengan $1300 di kota.


..................
Bersambung ke bagian-2 Resensi ini .....
Selanjutnya :
-    India ; dan
-    Ke Manakah Helai-helai Benang Globalisasi Itu Dirajut ?




[Ilustrasi Foto : Koleksi Pribadi]
@dii Mempersilahkan Anda Untuk Membaca Selengkapnya...
@=================================[Alfadii]=================================@

Berbagi Tulisan

Ingin berbagi tulisan bersama kami di blog ini ?
Ayo, posting tulisan anda dengan meng-klik Link ini.
(Baca terlebih dahulu cara dan ketentuannya)