Berawal dari pementasan I La Galigo, di Fort Rotterdam beberapa waktu yang lalu, menginspirasi jalan-jalan mendadak kali ini. Dalam satu bagian cerita epik ini, kapal Sawerigading sang tokoh utama karam oleh badai, pecahannya kemudian terserak di sekitar perairan Bulukumba, badan perahunya terdampar di pelabuhan ara, lunas terdampar di lemo-lemo dan kemudinya terdampar di Bira. Sehingga konon ceritanya, dari sinilah awal mula terbentuknya masyarakat bahari Bulukumba yang terdiri atas para pembuat perahu phinisi dari masyarakat ara dan lemo-lemo serta para pelaut ulungnya yang berasal dari masyarakat Bira
Bumi Panrita Lopi (bumi para pembuat perahu) merupakan nama lain dari Kabupaten Bulukumba yang terletak di sebelah selatan Provinsi Sulawesi Selatan, berjarak 150 km atau sekitar 3 jam dari Kota Makassar. Bulukumba merupakan daerah yang begitu berwarna, sangat kaya untuk dieksplorasi, mulai dari alam, potensi agro, masyarakat dan ... jangan sampai terlewat untuk mendokumentasikan bentuk tradisi turun-temurun yang terkenal hingga ke seberang benua, ya... tradisi pembuatan perahu phinisi. Bukan apa-apa sih, jika anda berdiri di sebelah "bayi-bayi" phinisi yang baru dipoles, berbincang langsung dengan para pembuatnya, niscaya anda akan merasakan sensasi (baca: merinding) mendengar cerita ketangguhan jenis perahu legendaris ini. Di zaman modern saja, sederet nama perahu kebanggaan Bangsa Indonesia ini mampu melanglang buana menembus badai dan menjelajah samudera luas, antara lain seperti, perahu phinisi Nusantara yang mampu mengarungi samudera pasifik sampai Vancauver, Phinisi Hati Marege mampu menembus lautan bebas di selatan Timor Timur sampai ke Darwin Australia, Phinisi Amannagappa berlayar hingga ke Madagaskar serta Damar Sagara melayari rute, Bulukumba - Makassar - Samarinda - Filipina - Jepang -Amerika. Dan semuanya dibuat di sini, tepatnya di Tanah Beru.
Pantai Bira
Letaknya sekitar 42 km dari kota Bulukumba, panoramanya keren, pantai pasir putih disaput air laut yang jernih, pada bulan-bulan tertentu jika beruntung kita dapat melihat lumba-lumba yang melompat di atas permukaan air laut yang jernih.
Tanah Beru
Letaknya sekitar 24 km dari kota Bulukumba, di sinilah tempat pembuatan perahu phinisi. Sepanjang garis pantai kita akan menyaksikan berderet ragam jenis perahu phinisi sedang dikerjakan. Jika beruntung kita mungkin akan menyaksikan upacara pelepasan perahu phinisi yang telah jadi untuk dilepas ke samudera. Sayangnya, ketika kami berkunjung, peristiwa itu terlewat sekitar seminggu sebelum kami tiba, sebuah perahu phinisi ukuran besar yang merupakan pesanan dari salah seorang warga negara Prancis yang dikerjakan oleh unit usaha pembuatan perahu yang dipimpin oleh Haji Abdullah, telah dilepas ke samudera luas.
Pantai Lemo-Lemo
Letaknya sekitar 7 km dari Tanah beru, eksotisme yang ditawarkan luar biasa. Bahkan kami secara subyektif menganggap bahwa lemo-lemo merupakan pantai landai dengan pasir putih halus terbaik di Bulukumba. Eksotis karena daerah ini belum tergarap secara maksimal, namun inilah kelebihan yang ditawarkan pantai ini, sangat alami dan suasananya tenang dan asri karena berlatar belakang hijaunya hutan dengan beragam suara fauna yang khas.
Perkebunan Karet
Letaknya sekitar 3 km dari kota Bulukumba, berdiri sejak tahun 1918 oleh pemerintah Hindia Belanda. Kini, kawasan agro ini terbagi atas dua bagian yakni Pallangisang Estate dan Ballombissie Estate, yang dikelola oleh PT. Lonsum.
Kawasan Adat Amma Toa Kajang
Letaknya sekitar 7 km dari Perkebunan Karet PT. Lonsum, daerah ini merupakan desa adat yang kental dengan nilai-nilai kearifan lokal. Pola kehidupan masyarakatnya sederhana, pakaian hitam merupakan identitas warga masyarakatnya. Bangunan rumahnya seragam dan semuanya menghadap ke utara, masyarakatnya pun masih menjaga kelestarian hutan sekitar desa mereka. Jika kita ingin memasuki kawasan ini maka kita pun harus memakai pakaian hitam, melepas atribut yang bersifat duniawi dan berjalan tanpa alas kaki, sebagai tanda penghargaan dan rasa persaudaraan.
Catatan Kecil
Waktu cuti bersama selama 3 (tiga) hari ternyata tidaklah cukup untuk mengeksplorasi Bulukumba secara keseluruhan, masih ada juga spot yang terlewat, antara lain : makam Dato Tiro, pantai Samboang, Mandala Ria dan pemandian alam Bravo. Sekedar referensi dari kami, bahwa perjalanan ini kami mulai dari Makassar dengan menumpang angkutan umum (costing : @Rp. 35.000,-), kemudian melanjutkan perjalanan ke Bira (costing : Rp. 15.000,-). kami memilih untuk stay di Bira selama 2 (dua) malam karena di sini tersedia cukup akomodasi penginapan/bungalow murah (dari Rp. 50.000,- hingga Rp. 100.000,- per nett.) dan tempat makan (bagi kami yang sederhana, dan di sini banyak tersebar). Di samping itu pertimbangan kami stay di Bira karena dari sini kita bisa ke Tanah Beru dan Pantai Lemo-Lemo dalam sekali jalan (tersedia transportasi angkutan umum pasaran pagi dan siang hari, hingga sekitar jam 15.00 dengan costing @Rp.7.000,-, untuk ke Lemo-lemo, kita bisa naik ojek dari tugu kapal phinisi @Rp.7.500,-). Nah, untuk ke kebun karet dan kawasan adat Amma Toa Kajang, kita juga dapat naik angkutan umum dari Bira (costing : @Rp. 7.000), turun hingga menemukan kendaraan umum lainnya yang berwarna hitam (maaf, saya lupa mencatat nama jalannya). Dengan menggunakan jalur angkutan umum ini kita dapat menyinggahi perkebunan karet dan daerah kajang dalam sekali perjalanan, kalau bisa negosiasikan saja dengan sopir angkutannya untuk singgah sebentar di perkebunan karet sebelum ke Kajang. Untuk masuk ke kawasan adat, kita bisa naik ojek sekaligus merupakan pemandu kita untuk masuk ke kawasan adat, tarifnya tergantung kesepakatan, apakah kita akan masuk lebih dalam atau hingga tapal batas. Untuk masuk lebih dalam ke kawasan adat, kita berjalan kaki dari tapal batas daerah terlarang dan harus memakai pakaian hitam, tanpa kamera, peralatan teknologi dan alas kaki, serta terlebih dahulu meminta izin ke pihak desa setempat. Kita dapat pula mencoba metode hitchikking dari Makassar ke Bulukumba, untuk menekan budget transportasi, cukup ideal untuk dicoba mengingat jalur darat Makassar-Bulukumba terhitung cukup ramai.
Dokumentasi Gambar
Dari atas ke bawah :
Lokasi Pantai Bira : "Setenang Sang pagi" - "Pantai Bira Dalam Balutan Slow Speed" - "(Bukan) Vanilla Twilight" - "Menangkap Emas-Nya di Pagi Hari" - "Semangat Pagi" - "Pulang"
Lokasi Tanah Beru : "Menunggu" - "Mengintip Samudera"
Lokasi Pantai Lemo-Lemo : "Selembut Sutera" - Warna-Warni Lemo-Lemo"
Lokasi Perkebunan Karet : "Hening" - "Daeng Koboi Penyadap Karet" - "Kena Getah"
Lokasi Kawasan Adat Amma Toa : "Tapal Batas Daerah Terlarang" - "Bersahaja" - "Respect"
Catatan Foto : >>>Masih newbie, jadi mohon bimbingan, kritik dan sarannya, terima kasih.... :)
['O]
@dii Mempersilahkan Anda Untuk Membaca Selengkapnya...
Bumi Panrita Lopi (bumi para pembuat perahu) merupakan nama lain dari Kabupaten Bulukumba yang terletak di sebelah selatan Provinsi Sulawesi Selatan, berjarak 150 km atau sekitar 3 jam dari Kota Makassar. Bulukumba merupakan daerah yang begitu berwarna, sangat kaya untuk dieksplorasi, mulai dari alam, potensi agro, masyarakat dan ... jangan sampai terlewat untuk mendokumentasikan bentuk tradisi turun-temurun yang terkenal hingga ke seberang benua, ya... tradisi pembuatan perahu phinisi. Bukan apa-apa sih, jika anda berdiri di sebelah "bayi-bayi" phinisi yang baru dipoles, berbincang langsung dengan para pembuatnya, niscaya anda akan merasakan sensasi (baca: merinding) mendengar cerita ketangguhan jenis perahu legendaris ini. Di zaman modern saja, sederet nama perahu kebanggaan Bangsa Indonesia ini mampu melanglang buana menembus badai dan menjelajah samudera luas, antara lain seperti, perahu phinisi Nusantara yang mampu mengarungi samudera pasifik sampai Vancauver, Phinisi Hati Marege mampu menembus lautan bebas di selatan Timor Timur sampai ke Darwin Australia, Phinisi Amannagappa berlayar hingga ke Madagaskar serta Damar Sagara melayari rute, Bulukumba - Makassar - Samarinda - Filipina - Jepang -Amerika. Dan semuanya dibuat di sini, tepatnya di Tanah Beru.
Pantai Bira
Letaknya sekitar 42 km dari kota Bulukumba, panoramanya keren, pantai pasir putih disaput air laut yang jernih, pada bulan-bulan tertentu jika beruntung kita dapat melihat lumba-lumba yang melompat di atas permukaan air laut yang jernih.
Tanah Beru
Letaknya sekitar 24 km dari kota Bulukumba, di sinilah tempat pembuatan perahu phinisi. Sepanjang garis pantai kita akan menyaksikan berderet ragam jenis perahu phinisi sedang dikerjakan. Jika beruntung kita mungkin akan menyaksikan upacara pelepasan perahu phinisi yang telah jadi untuk dilepas ke samudera. Sayangnya, ketika kami berkunjung, peristiwa itu terlewat sekitar seminggu sebelum kami tiba, sebuah perahu phinisi ukuran besar yang merupakan pesanan dari salah seorang warga negara Prancis yang dikerjakan oleh unit usaha pembuatan perahu yang dipimpin oleh Haji Abdullah, telah dilepas ke samudera luas.
Pantai Lemo-Lemo
Letaknya sekitar 7 km dari Tanah beru, eksotisme yang ditawarkan luar biasa. Bahkan kami secara subyektif menganggap bahwa lemo-lemo merupakan pantai landai dengan pasir putih halus terbaik di Bulukumba. Eksotis karena daerah ini belum tergarap secara maksimal, namun inilah kelebihan yang ditawarkan pantai ini, sangat alami dan suasananya tenang dan asri karena berlatar belakang hijaunya hutan dengan beragam suara fauna yang khas.
Perkebunan Karet
Letaknya sekitar 3 km dari kota Bulukumba, berdiri sejak tahun 1918 oleh pemerintah Hindia Belanda. Kini, kawasan agro ini terbagi atas dua bagian yakni Pallangisang Estate dan Ballombissie Estate, yang dikelola oleh PT. Lonsum.
Kawasan Adat Amma Toa Kajang
Letaknya sekitar 7 km dari Perkebunan Karet PT. Lonsum, daerah ini merupakan desa adat yang kental dengan nilai-nilai kearifan lokal. Pola kehidupan masyarakatnya sederhana, pakaian hitam merupakan identitas warga masyarakatnya. Bangunan rumahnya seragam dan semuanya menghadap ke utara, masyarakatnya pun masih menjaga kelestarian hutan sekitar desa mereka. Jika kita ingin memasuki kawasan ini maka kita pun harus memakai pakaian hitam, melepas atribut yang bersifat duniawi dan berjalan tanpa alas kaki, sebagai tanda penghargaan dan rasa persaudaraan.
Catatan Kecil
Waktu cuti bersama selama 3 (tiga) hari ternyata tidaklah cukup untuk mengeksplorasi Bulukumba secara keseluruhan, masih ada juga spot yang terlewat, antara lain : makam Dato Tiro, pantai Samboang, Mandala Ria dan pemandian alam Bravo. Sekedar referensi dari kami, bahwa perjalanan ini kami mulai dari Makassar dengan menumpang angkutan umum (costing : @Rp. 35.000,-), kemudian melanjutkan perjalanan ke Bira (costing : Rp. 15.000,-). kami memilih untuk stay di Bira selama 2 (dua) malam karena di sini tersedia cukup akomodasi penginapan/bungalow murah (dari Rp. 50.000,- hingga Rp. 100.000,- per nett.) dan tempat makan (bagi kami yang sederhana, dan di sini banyak tersebar). Di samping itu pertimbangan kami stay di Bira karena dari sini kita bisa ke Tanah Beru dan Pantai Lemo-Lemo dalam sekali jalan (tersedia transportasi angkutan umum pasaran pagi dan siang hari, hingga sekitar jam 15.00 dengan costing @Rp.7.000,-, untuk ke Lemo-lemo, kita bisa naik ojek dari tugu kapal phinisi @Rp.7.500,-). Nah, untuk ke kebun karet dan kawasan adat Amma Toa Kajang, kita juga dapat naik angkutan umum dari Bira (costing : @Rp. 7.000), turun hingga menemukan kendaraan umum lainnya yang berwarna hitam (maaf, saya lupa mencatat nama jalannya). Dengan menggunakan jalur angkutan umum ini kita dapat menyinggahi perkebunan karet dan daerah kajang dalam sekali perjalanan, kalau bisa negosiasikan saja dengan sopir angkutannya untuk singgah sebentar di perkebunan karet sebelum ke Kajang. Untuk masuk ke kawasan adat, kita bisa naik ojek sekaligus merupakan pemandu kita untuk masuk ke kawasan adat, tarifnya tergantung kesepakatan, apakah kita akan masuk lebih dalam atau hingga tapal batas. Untuk masuk lebih dalam ke kawasan adat, kita berjalan kaki dari tapal batas daerah terlarang dan harus memakai pakaian hitam, tanpa kamera, peralatan teknologi dan alas kaki, serta terlebih dahulu meminta izin ke pihak desa setempat. Kita dapat pula mencoba metode hitchikking dari Makassar ke Bulukumba, untuk menekan budget transportasi, cukup ideal untuk dicoba mengingat jalur darat Makassar-Bulukumba terhitung cukup ramai.
Dokumentasi Gambar
Dari atas ke bawah :
Lokasi Pantai Bira : "Setenang Sang pagi" - "Pantai Bira Dalam Balutan Slow Speed" - "(Bukan) Vanilla Twilight" - "Menangkap Emas-Nya di Pagi Hari" - "Semangat Pagi" - "Pulang"
Lokasi Tanah Beru : "Menunggu" - "Mengintip Samudera"
Lokasi Pantai Lemo-Lemo : "Selembut Sutera" - Warna-Warni Lemo-Lemo"
Lokasi Perkebunan Karet : "Hening" - "Daeng Koboi Penyadap Karet" - "Kena Getah"
Lokasi Kawasan Adat Amma Toa : "Tapal Batas Daerah Terlarang" - "Bersahaja" - "Respect"
Catatan Foto : >>>Masih newbie, jadi mohon bimbingan, kritik dan sarannya, terima kasih.... :)
['O]




